kujumputi hati
yang melembarlembar
sebagai guguran dedaun di altar
oh, ternyata rindu
Bahkan aku tak tahu, sejak kapan kita saling kenal. Namun, semenjak keterlambatan kereta membohongi kita, aku merasa benar-benar mengenalmu. Di ruang tunggu itu, kau memberiku senyum yang tak tuntas.
sungguh ini debar
berserak benar
di setiap setiup nafas
yang bukan lagi kapas
udara memadat
di rongga dadaku
rinduku tersalib
di sepi
yang tak pernah menjelangkanmu
sehingga senyap rumah di denyutku
sisanya adalah duri
tertanam di nadi
menyumbat arus
sehingga nyeri
merupa spasi sunyi
Kita hanya menyisakan satu percakapan. Di taman, di sebelah kolam yang airnya sebening matamu. Tidak ada bulan. Tapi sorot lampu menyuruh kita bercermin. "Kau cantik," kataku membisik, menunjuk bayangmu, tepat di wajah. Seraya senyum kakimu mengayun-ayun di kolam. Sehingga robek citramu yang ayu di muka air itu. Maka sekali-kali kuberanikan menatapmu saja. Kau tersipu.
sementara pengharapan
meminta ruang
meski sesudut
di ujung jantung
ah, biar saja kutanam
bayangmu di inti retina
jika kau datang
niscayalah mataku ini cermin
untukmu, hai peziarah asing
andaipun tidak
cukuplah kau lukisan abadi
di retina hitam ini
Rumah Soeket Teki, penghujung Januari-awal Februari 2010