Wednesday, February 03, 2010

Lukisan Abadi di Retina

0

kujumputi hati
yang melembarlembar
sebagai guguran dedaun di altar

oh, ternyata rindu

Bahkan aku tak tahu, sejak kapan kita saling kenal. Namun, semenjak keterlambatan kereta membohongi kita, aku merasa benar-benar mengenalmu. Di ruang tunggu itu, kau memberiku senyum yang tak tuntas.

sungguh ini debar
berserak benar
di setiap setiup nafas
yang bukan lagi kapas

udara memadat
di rongga dadaku

rinduku tersalib
di sepi
yang tak pernah menjelangkanmu
sehingga senyap rumah di denyutku

sisanya adalah duri
tertanam di nadi
menyumbat arus

sehingga nyeri
merupa spasi sunyi

Kita hanya menyisakan satu percakapan. Di taman, di sebelah kolam yang airnya sebening matamu. Tidak ada bulan. Tapi sorot lampu menyuruh kita bercermin. "Kau cantik," kataku membisik, menunjuk bayangmu, tepat di wajah. Seraya senyum kakimu mengayun-ayun di kolam. Sehingga robek citramu yang ayu di muka air itu. Maka sekali-kali kuberanikan menatapmu saja. Kau tersipu.

sementara pengharapan
meminta ruang
meski sesudut
di ujung jantung

ah, biar saja kutanam
bayangmu di inti retina

jika kau datang
niscayalah mataku ini cermin
untukmu, hai peziarah asing

andaipun tidak
cukuplah kau lukisan abadi
di retina hitam ini
Rumah Soeket Teki, penghujung Januari-awal Februari 2010
Author Image

About ngobrolndobol
Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a Comment