Friday, December 10, 2010

Melacak Semiologi Mazhab Saussuran

0
Oleh Musyafak Timur Banua
(Seputar Indonesia 21 November 2010)

Judul : Semiologi: Kajian Teori Tanda Saussuran antara Semiologi Komunikasi dan Semiologi Signifikasi
Penulis : Jeanne Martinet
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : xii + 212 hlm

Dunia merupakan gejala yang tersusun dari pelbagai tanda. Sebagian tanda itu, ada yang langsung mengungkapkan maknanya secara jelas, ada pula yang samar-samar, bahkan menyembunyikan makna rapat-rapat hingga butuh penggalian mendalam. Keja Filsafat maupun Bahasa secara berangsur-angsur mencoba menguak makna-makna di balik gejala-gejala yang tersusun dari berbagai tanda. Hingga pengkajian tersebut mencapai tonggak penting dalam sejarah pemikiran, yaitu kelahiran semiologi.

Ferdinand de Saussure peletak dasar semiologi, di samping pemrakarsa linguistik modern. Di sebelah lain, Sanders Pierce menyebut kajian tentang tanda dengan istilah semiotika. Namun, baik semiologi maupun semiotika adalah teminologi sepadan sebab keduanya membicarakan hal yang sama: tanda.

Jeanne Martinet mendedah bangunan pemikiran Saussure melalui buku Semiologi: Kajian Teori Tanda Saussuran antara Semiologi Komunikasi dan Semiologi Signifikasi. Penulis yang pernah menjabat sebagai Presiden Union Interlinguiste de France, mengawali bahasannya dengan menyoal definisi semiologi yang berkembang di kalangan penerus Saussure. Tidak lain sebuah upaya pencarian batas-batas semiologi itu sendiri. Jeanne merujuk Georges Mounin yang mengadaptasi Saussure, bahwa semiologi adalah ilmu tentang semua sitem tanda atau simbol, di mana sistem-sistem itu membuat manusia bisa berkomunikasi satu sama lain. Juga merujuk Roland Barthes yang menarik semiologi menjadi kajian lebih luas. Bagi Barthes, semiologi adalah semua sistem tanda apapun substansi dan batasnya, meliputi gambar, gerak tubuh, bunyi, melodis, benda-benda, dan pelbagai kompleks yang sekurang-kurangnya merupakan sistem pertandaan (signifikasi), jika bukan merupakan bahasa (langue).

Namun condong buku ini lebih dimakmumkan kepada Mounin ketimbang Barthes. Kredo semiologi Mounin menyatakan bahwa sistem tanda terdefiniskan melalui fungsinya sebagai sistem komunikasi manusia. Sedang Barthes memandang bahwa tiap-tiap sistem memiliki signifikasi (pertandaan) atau beberapa signifikasi. Jelaslah pengejaran buku ini tertuju pada semiologi komunikasi. Namun semiologi signifikasi ala Barthes tidak serta-merta disingkirkan, sebab pelbagai pandangan Barthes masih selalu dirujuk sebagai salah satu elemen pembangun pemikiran semiologi Saussuran.

Maka medan kajiannya spesifik pada komunikasi linguistik yang selama ini menjadi medium komunikasi manusia. Mulailah pada pemikiran Saussure tentang langue (bahasa) dan parole (tuturan). Langue adalah bahasa yang hadir secara utuh dalam bentuk kaidah-kaidah atau konvensi yang diterima individu dalam berbahasa. Meski begitu, langue adalah kesepakatan secara arbitrer (semena-mena) yang konsistensinya sangat kuat. Sementara parole adalah perwujudan bahasa yang hadir sebagai tindakan individual di mana masing-masing individu memiliki pilihan dan variasi berbeda. Sifat parole selalu berubah-ubah, bervariasi tanpa batas, tanpa pola, dan menjadi fenomena yang tidak menentu. Karena itulah, langue yang dijadikan menjadi objek linguistik.

Bahasa bukan sekadar perbendaharaan kata-kata, atau berbagai nama-nama yang dihubungkan dengan benda. Tetapi bahasa merupakan suatu sistem tanda yang di dalamnya terjalin tanda-tanda menurut suatu aturan tertentu yang memungkinkan bahasa menjalankan fungsinya sebagai sarana representasi dan komunikasi.

Tiap-tiap proses komunikasi meliputi tindakan semik yang memungkinkan terjadinya sirkuit wicara (acte de parole). Sirkuit wicara, sebagaimana digambarkan Shannon dan Weaver, pada dasarnya adalah transmisi informasi sebagai sistem umum komunikasi. Satu sumber informasi memproduksi satu atau serangkaian pesan yang harus ditransmisikan kepada reseptor (penerima). Hal itu membutuhkan transmitor (pemindah) sebagai medium yang dapat memperlakukan pesan sedemikian rupa sehingga bisa memproduksi sinyal yang kemudian dipindahkan melalui kanal (saluran).

Tidak semuanya tindakan semik berhasil mengantarkan tujuannya: pesan. Tindakan semik juga mungkin bisa berakhir sebagai kegagalan ketika reseptor tidak memahami apa yang disampaikan, atau bahkan tidak merasa menerima apapun. Berbagai penyebab kegagalan dirangkum dalam konsep “derau”. Derau meliputi lingkungan yang kurang mendukung semisal kegaduhan, bahasa yang ambigu, atau pemilihan tanda bahasa yang “menyeleweng” dan tidak akuratnya pemilihan tanda itu sendiri.

Bangunan semiologi mazhab Saussuran amat luas dan rinci. Jean Martinet mencoba menggambarkannya secara detail dan mengambil posisi kritis di dalamnya. Sebuah perluasan dengan cara melacak sekaligus membangun mazhab Saussuran. Kajian di dalamnya cukup memadai untuk dijadikan rujukan atas kajian semiologi Saussuran.

Musyafak Timur Banua,
Litbang Surat Kabar Mahasiswa AMANAT IAIN Walisongo, aktif di Komunitas Sastra Soeket Teki Semarang
Author Image

About ngobrolndobol
Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a Comment